LINGKUNGAN HIDUP

Published on by AGUSMOTE


KUALITAS AIR: Dulu, Sekarang dan yang akan Datang



LINGKUNGAN HIDUP


KUALITAS AIR: Dulu, Sekarang dan yang akan Datang
Oleh : Derek Mote | 09-Mar-2010, 00:02:14 WIB

KabarIndonesia - Pemahaman tentang kualitas air yang terjadi dimasyarakat pada umumnya hanya didasarkan pada penilaian secara fisik. Pemahaman demikian tak seluruhnya keliru, mengigat pengalaman kakek-nenek mereka dahulu yang menilai kualitas air berdasarkan indera. Bahkan, mengonsumsi air secara langsung dari suatu sumber bukanlah sesuatu yang perlu untuk dikhawatirkan.

Tak usah jauh-jauh, sekitar 30 tahun lalu, di daerah Timepa Adauwo, Kabupaten Dogiyai - Papua, masyarakat (termasuk penulis), masih mengonsumsi air secara langsung langsung (air mentah) yang mengalir melalui sebuah bambu dari mata air di dekat sungai. Rasanya luar biasa, sejuk dan menyegarkan!

Pertanyaannya, masih relevankah hal tersebut dilakukan sekarang? Jelas tidak! Sudah ditanamkan dibenak sejak di bangku TK/SD bahwa air yang diminum harus dimasak lebih dulu, dan nampaknya indikasi tentang pemahaman hygiene makanan/minuman sudah lebih baik dibanding dahulu. Tetapi disisi lain, pemahaman tentang perlunya pengolahan air sebelum di konsumsi, seolah ingin menegaskan sudah terjadi degradasi kualitas air, bahkan sudah sangat mengkhawatirkan.

Dalam Peraturan Pemerintah (PP) No. 20 tahun 1990 tentang Pengendalian Pencemaran Air, Pengolongan air menurut peruntukannya masih mencatumkan kualitas air golongan A, yaitu air yang langsung dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu. Tetapi PP ini diganti dengan PP No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dimana dalam PP ini, kualitas air yang langsung dapat diminum sudah tidak ada lagi. Klasifikasi air yang berkaitan dengan air untuk konsumsi, menurut PP ini masuk dalam kelas 1 yang merupakan air dengan kualitas tertinggi. Itupun hanya dinyatakan sebagai "air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku, air minum, dan peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan air tersebut"

Kalimat yang tertuang pada PP No. 82 tahun 2001 untuk klasifikasi air kelas I, mengindikasikan bahwa pengolahan air mutlak diperlukan sebelum dapat diminum.

Apakah ini berarti saat sekarang sumber air bahkan mata air sekalipun, dibumi Indonesia ini sudah tidak ada yang layak alias terjamin kualitasnya? Tampaknya memang demikian. Peningkatan jumlah penduduk diikuti peningkatan berbagai kebutuhan hidup, tak hanya memicu eksploitasi sumber daya alam namun juga menambah jenis dan kualitas bahan buangan itu selama ini dibuang? Ke tanah dan badan-badan air! Karena itu tidak usah heran kalau kualitas air sungai sekarang ini sudah menyerupai air limbah. Akhir-akhir ini berita tentang pencemaran sungai maupum air tanah sudah sering muncul baik dimedia cetak maupun elektronik.

Sebagai contoh beberapa berita yang biasa dilihat untuk mengambarkan kualitas sumber air yang ada di Indonesia saat ini,pemantauan kualitas air sungai yang dilakukan 33 Propinsi tahun 2004 dengan frekwensi pengambilan sampel sebanyak dua kali dalam setahun.

Hasil pemantauan parameter DO, BOD, COD, fecal coli dan total coliform mayoritas sudah tidak memenuhi kriteria mutu air kelas I menurut PP 82 Tahun 2001. Untuk parameter biologi fecal coli dan total coliform dapat dikatakan bahwa mayoritas sungai yang terdapat di kota pada penduduk seperti di pulau Jawa cenderung lebih tercemar oleh bakteri tersebut, seperti sungai progo (Jateng dan Yogyakarta), Sungai Ciliwung (Jakarta), sungai citarum (Jawa Barat) sungai kali Nabire (Papua), dan sungai Kali APO ( Kodya Jayapura ) Papua dan sungai-sungai yang lain di Indonesia, kualitas air sumur di Papua menurun drastic.

Saat ini, hampir semua sumur penduduk sudah tercemari oleh bakteri Coli yang merugikan kesehatan manusia Bakteri Coli itu sendiri dipastikan berasal dari kotoran manusia (tinja) yang meresap kedalam air sumur. Proses peresapan tinja kedalam air sumur terjadi karena jarak antara tempat pembuangan (septic tank) dengan sumur sangat berdekatan. Penelitian yang di lakukan pada beberapa wilayah Papua menunjukkan kandungan bakteri Coli pada air sumur penduduk sudah melebihi ambang batas dan terus mengalami peningkatan, dengan kandungan bankteri Coli antara 400-2.000 per milliliter air.

Kegiatan industri yang selama ini menjadi sorotan utama penyebab turunya kualitas sumber air mungkin perlu dipertanyakan lagi, sebab dari kondisi yang digambarkan diatas, tampaknya justru limbah domestic dalam hal ini adalah limbah rumah tangga mempunyai potensi pencemar yang tidak biasa dianggap enteng. Di daerah perkotaan orang membuang limbah rumah tangga ke saluran drainase dan sungai.

Sementara di daerah pedesaan limbah dibuang ke pekarangan atau sungai. Kondisi ini diperparah dengan sisa penggunaan pestisida dan sejenisnya (B3) yang berlebihan pada aktivitas pertanian dan kegiatan lainnya yang kemudian mengalir ke sungai. Keadaan ini pada akhirnya akan menurunkan kualitas air permukaan maupun air tanah.

Disisi lain sumber-sumber air untuk memenuhi kebutuhan tersebut semakin langkah atau mengalami kemerosotan, baik jumlah maupun kualitasnya, sehingga menimbulkan krisis air diberbagai daerah. Bahkan saking terbatasnya ketersediaan air, untuk memenuhui kebutuhan, kualitas air sudah tidak menjadi perioritas utama.

Pengelolaan sumber daya air yang menyeluruh mutlak diperlukan untuk mengatasi permasalahan ini. Menyeluruh dalam arti pengelolaan dari daerah hulu, daerah aliran sungai dan daerah hilir menyangkut pemanfaatannya. Tentunya ini memerlukan koordinasi antar lembaga dan disiplin ilmu, sudah bukan jamannya pengelolaan sumber daya air masih bersifat kedaerahan, namun harus mengacu pada basis wilayah sungai.

Untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan sumberdaya air perlu dilakukan keterpaduan pengelolaan meliputi; koordinasi dan kolaborasi antar instansi pada multi sektor dan multi level dalam penyusunan kebijakan dan program, penggunaan saling menunjang antara air tanah dan air permukaan dengan mengutamakan penggunaan air permukaan, konservasi dan rehabilitasi lingkungan sumber daya air, meningkatkan perang masyarakat, pakar, dan pengguna air dalam pengelolaan sumberdaya air. Mampukah kita mewujudkannya?

Air sebagai aset kehidupan perlu dijaga sebagai wujud kecintaan terhadap kehidupan. Pemanfaatan air yang tidak terarah menimbulkan bencana bagi kehidupan. Kolaborasi antar disiplin ilmu dan lembaga akan memberikan sinergi yang saling memberi manfaat sehingga kepentingan terhadap air yang saling berseberangan dapat dihindarkan. (*)


Penulis, Alumi di Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) Yogyakarta



Blog: http://www.pewarta-kabarindonesia.blogspot.com/
Alamat ratron (surat elektronik): redaksi@kabarindonesia.com Berita besar hari ini...!!! Kunjungi segera:
http://www.kabarindonesia.com//

Published on WALHI

To be informed of the latest articles, subscribe:
Comment on this post